Lagi nganggur aja, daripada bengong. Mending nge-post aja ye hehehe.
Suasana Lebaran lagi, terasa banget nih. Kota gue jadi sepi, pada mudik ke kampung, kali ya?
Terus, rumah gue juga udah mulai dipenuhi oleh riuh nya saudara-saudara yang berkunjung. Secara oma gue, alias emak nya nyokap, tante dan om gue tinggal di sini (rumah gue) maksudnya,(rumah nyokap gue)
Tapi selama 16 tahun, berlebaran bersama keluarga. Pastinya. Ada sesuatu yang lama-kelamaan harus gue ngerti in dan maklumin. Dan sekarang ini gue merasa bahwa itu adalah sebuah kekurangan dalam hidup gue.
Karena sekarang ini gue udah besar dan udah bisa mengerti, yaitu :
kenapa bokap gue gak pernah ikut merayakan hari bahagia ini bersama-sama.
Dan pertanyaan sejak kecil :
kenapa bokap gak pernah memimpin kita sholat ?
sepertinya gak perlu gue tanyain ke siapa-siapa ya karena gue tahu jawaban nya sekarang,mmm tepat nya beberapa tahun yang lalu sih.
Yah.... itu karena bokap gue seorang nasrani.
Tentu dia gak akan pernah bisa menjadi imam untuk gue dan nyokap gue. Bukan gue anggap sebagai sesuatu yang menyedihkan, tapi sebagai takdir yang memang harus gue jalani.
Gue juga gak ngerti bagaimana sebenarnya kehidupan orang dewasa itu. Mungkin karena gue belum dewasa dan belum mencapai titik dimana gue merasakan dan harus memutuskan sesuatu secara dewasa.
Kedua orang menikah atas dasar mencintai. Babak baru kehidupan sebenarnya baru dimulai saat awalan itu. Berusaha untuk menjaga satu sama lain dan mempertahan kan hingga selesai tugas masing-masing. Tapi kedua orang tua gue kenapa ya masih tetep menikah walaupun mereka tahu kalau udah ''berbeda'' seperti itu. Emak gue termasuk yang berani mengambil risiko ya, menurut gue sih kayak gitu. Mungkin mereka yakin kalau ada masa depan untuk mereka berdua walau pun berbeda sekalipun. Dan itu benar. Buktinya gue ada sekarang, ada adik-adik gue dan mereka masih bersama hingga detik ini. Alhamdullilah.
Menjadi seorang anak dengan dua pandangan yang berbeda dalam satu rumah, cukup membuat gue of confused! of course lah. Gue dari kecil sama-sama diarah kan pada dua keyakinan dan nanti nya gue sendiri tentunya yang memilih, mana yang terbaik buat gue ke depan nya. Ya, because my time was spent by my mother, so gue lebih condong ke emak gue.
Kejadian di masa kecil gue ini lah yang membuat suatu pandangan hidup gue, yaitu gue harus married sama lelaki yang seiman. Karena menurut gue lebih ada kehidupan yang baik dengan ada nya kesamaan persepsi. Bukannya perbedaan itu harus dihapuskan, tentu karena ada nya perbedaan kita saling melengkapi. Tapi dengan ada nya kesamaan juga lebih menyatukan kita.
So, I dont feel disappointed, if my daddy was not celebrating. But one day I'll find someone who can do it for me and my family,
Jumat, 18 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar